Powered By Blogger

Jumat, 07 Januari 2011

Bahan Makalah Biokimia


 IWAYAN EKANATA
E 271 09 020
 

Asam amino adalah sembarang senyawa organik yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (biasanya -NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit: keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama (disebut atom C "alfa" atau α). Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu menjadi zwitter-ion. Asam amino termasuk golongan senyawa yang paling banyak dipelajari karena salah satu fungsinya sangat penting dalam organisme, yaitu sebagai penyusun protein.

 Struktur asam amino

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7d/Amino_acid.svg/150px-Amino_acid.svg.png
http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png
Struktur asam α-amino, dengan gugus amina di sebelah kiri dan gugus karboksil di sebelah kanan.
Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat empat gugus: gugus amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H), dan satu gugus sisa (R, dari residue) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya.
Atom C pusat tersebut dinamai atom Cα ("C-alfa") sesuai dengan penamaan senyawa bergugus karboksil, yaitu atom C yang berikatan langsung dengan gugus karboksil. Oleh karena gugus amina juga terikat pada atom Cα ini, senyawa tersebut merupakan asam α-amino.
Asam amino biasanya diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia rantai samping tersebut menjadi empat kelompok. Rantai samping dapat membuat asam amino bersifat asam lemah, basa lemah, hidrofilik jika polar, dan hidrofobik jika nonpolar.

Isomerisme pada asam amino

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/65/D%2BL-Alanine.gif/220px-D%2BL-Alanine.gif
Dua model molekul isomer optis asam amino alanina
Karena atom C pusat mengikat empat gugus yang berbeda, maka asam amino—kecuali glisina—memiliki isomer optik: l dan d. Cara sederhana untuk mengidentifikasi isomeri ini dari gambaran dua dimensi adalah dengan "mendorong" atom H ke belakang pembaca (menjauhi pembaca). Jika searah putaran jarum jam (putaran ke kanan) terjadi urutan karboksil-residu-amina maka ini adalah tipe d. Jika urutan ini terjadi dengan arah putaran berlawanan jarum jam, maka itu adalah tipe l. (Aturan ini dikenal dalam bahasa Inggris dengan nama CORN, dari singkatan COOH - R - NH2).
Pada umumnya, asam amino alami yang dihasilkan eukariota merupakan tipe l meskipun beberapa siput laut menghasilkan tipe d. Dinding sel bakteri banyak mengandung asam amino tipe d.

Polimerisasi asam amino

Lihat juga artikel tentang ekspresi genetik.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/3e/2-amino-acidsb.png/400px-2-amino-acidsb.png
Reaksi kondensasi dua asam amino membentuk ikatan peptida
Protein merupakan polimer yang tersusun dari asam amino sebagai monomernya. Monomer-monomer ini tersambung dengan ikatan peptida, yang mengikat gugus karboksil milik satu monomer dengan gugus amina milik monomer di sebelahnya. Reaksi penyambungan ini (disebut translasi) secara alami terjadi di sitoplasma dengan bantuan ribosom dan tRNA.
Pada polimerisasi asam amino, gugus -OH yang merupakan bagian gugus karboksil satu asam amino dan gugus -H yang merupakan bagian gugus amina asam amino lainnya akan terlepas dan membentuk air. Oleh sebab itu, reaksi ini termasuk dalam reaksi dehidrasi. Molekul asam amino yang telah melepaskan molekul air dikatakan disebut dalam bentuk residu asam amino.

 

Zwitter-ion

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/ad/Amino_acid_zwitterion.png/200px-Amino_acid_zwitterion.png
Asam amino dalam bentuk tidak terion (kiri) dan dalam bentuk zwitter-ion.
Karena asam amino memiliki gugus aktif amina dan karboksil sekaligus, zat ini dapat dianggap sebagai sekaligus asam dan basa (walaupun pH alaminya biasanya dipengaruhi oleh gugus-R yang dimiliki). Pada pH tertentu yang disebut titik isolistrik, gugus amina pada asam amino menjadi bermuatan positif (terprotonasi, –NH3+), sedangkan gugus karboksilnya menjadi bermuatan negatif (terdeprotonasi, –COO-). Titik isolistrik ini spesifik bergantung pada jenis asam aminonya. Dalam keadaan demikian, asam amino tersebut dikatakan berbentuk zwitter-ion. Zwitter-ion dapat diekstrak dari larutan asam amino sebagai struktur kristal putih yang bertitik lebur tinggi karena sifat dipolarnya. Kebanyakan asam amino bebas berada dalam bentuk zwitter-ion pada pH netral maupun pH fisiologis yang dekat netral.

 

Asam amino dasar (standar)

Protein tersusun dari berbagai asam amino yang masing-masing dihubungkan dengan ikatan peptida. Meskipun demikian, pada awal pembentukannya protein hanya tersusun dari 20 asam amino yang dikenal sebagai asam amino dasar atau asam amino baku atau asam amino penyusun protein (proteinogenik). Asam-asam amino inilah yang disandi oleh DNA/RNA sebagai kode genetik.
Berikut adalah ke-20 asam amino penyusun protein (singkatan dalam kurung menunjukkan singkatan tiga huruf dan satu huruf yang sering digunakan dalam kajian protein), dikelompokkan menurut sifat atau struktur kimiawinya:

Fungsi biologi asam amino

1.      Penyusun protein, termasuk enzim.
2.      Kerangka dasar sejumlah senyawa penting dalam metabolisme (terutama vitamin, hormon dan asam nukleat).
3.      Pengikat ion logam penting yang diperlukan dalam dalam reaksi enzimatik (kofaktor).

Asam amino esensial

Asam amino diperlukan oleh makhluk hidup sebagai penyusun protein atau sebagai kerangka molekul-molekul penting. Ia disebut esensial bagi suatu spesies organisme apabila spesies tersebut memerlukannya tetapi tidak mampu memproduksi sendiri atau selalu kekurangan asam amino yang bersangkutan. Untuk memenuhi kebutuhan ini, spesies itu harus memasoknya dari luar (lewat makanan). Istilah "asam amino esensial" berlaku hanya bagi organisme heterotrof.
Bagi manusia, ada delapan (ada yang menyebut sembilan) asam amino esensial yang harus dipenuhi dari diet sehari-hari, yaitu isoleusina, leusina, lisina, metionina, fenilalanina, treonina, triptofan, dan valina. Histidina dan arginina disebut sebagai "setengah esensial" karena tubuh manusia dewasa sehat mampu memenuhi kebutuhannya. Asam amino karnitina juga bersifat "setengah esensial" dan sering diberikan untuk kepentingan pengobatan.
PANGAN
Dalam bidang pangan hidrokarbon yang di gunakan tidak murni lagi, tapi sedikit lebih luas, yaitu karbohidrat.
Karbohidrat atau sakarida adalah segolongan besar senyawa organik yang tersusun dari atom karbon, hidrogen, dan oksigen. Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana. Kalau atom karbon dinotasikan sebagai bola berwarna hitam, okeigen berwarna merah dan hidrogen berwarna putih maka bentuk molekul tiga dimensi dari glukosa akan seperti gambar disamping ini. Banyak karbohidrat yang merupakan polimer yang tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta bercabang-cabang.
Karbohidrat merupakan bahan makanan penting dan sumber tenaga yang terdapat dalam tumbuhan dan daging hewan. Selain itu, karbohidrat juga menjadi komponen struktur penting pada makhluk hidup dalam bentuk serat (fiber), seperti selulosa, pektin, serta lignin.
Karbohidrat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan tubuh. Tubuh menggunakan karbohidrat seperti layaknya mesin mobil menggunakan bensin. Glukosa, karbohidrat yang paling sederhana mengalir dalam aliran darah sehingga tersedia bagi seluruh sel tubuh. Sel-sel tubuh tersebut menyerap glukosa. Gula ini kemudian oleh sel dioksidasi (dibakar) dengan bantuan oksigen yang kita hirup menjadi energi dan gas CO2 dalam bentuk respirasi / pernafasan. Energi yang dihasilkan dan tidak digunakan akan disimpan dibawah jaringan kulit dalam bentuk lemak.

SANDANG
Dari bahan hidrokarbon yang bisa dimanfaatkan untuk sandang adalah PTA (purified terephthalic acid) yang dibuat dari para-xylene dimana bahan dasarnya adalah kerosin (minyak tanah). Dari Kerosin ini semua bahannya dibentuk menjadi senyawa aromat, yaitu para-xylene. Rumus kimianya tau kan ? Bentuknya senyawa benzen (C6H6), tetapi ada dua gugus metil pada atom C1 dan C3 dari molekul benzen tersebut.

Para-xylene ini kemudian dioksidasi menggunakan udara menjadi PTA (lihat peta proses petrokimia diatas). Nah dari PTA yang berbentuk seperti tepung detergen ini kemudian direaksikan dengan metanol menjadi serat poliester. Serat poli ester inilah yang menjadi benang sintetis yang bentuknya seperti benang. Hampir semua pakaian seragam yang adik-adik pakai mungkin terbuat dari poliester.     Untuk memudahkan pengenalannya bisa dilihat dari harganya. Harga pakaian yang terbuat dari benang sintetis poliester biasanya relatif lebih murah dibandingkan pakaian yang terbuat dari bahan dasar katun, sutra atau serat alam lainnya.

Kehalusan bahan yang terbuat dari serat poliester dipengaruhi oleh zat penambah (aditif) dalam proses pembuatan benang (saat mereaksikan PTA dengan metanol). Salah satu produsen PTA di Indonesia adalah di Pertamina Unit Pengolahan III dengan jenis produk dan peruntukannya disini.
Sebetulnya ada polimer lain yang juga dibunakan untuk pembuatan serat sintetis yang lebih halus atau lembut lagi. Misal serat untuk bahan isi pembalut wanita. Polimer tersebut terbuat dari polietilen.

PAPAN
Bahan bangunan yang berasal dari hidrokarbon pada umumnya berupa plastik. Bahan dasar plastik hampir sama dengan LPG, yaitu polimer dari propilena, yaitu senyawa olefin / alkena dari rantai karbon C3. Dari bahan plastik inilah kemudian jadi macam2… mulai dari atap rumah (genteng plastik), furniture, peralatan interior rumah, bemper mobil, meja, kursi, piring, dll.
    Pokoknya untuk jenisnya silahkan sebutkan sendiri… banyak kok… pokoknya cari aja dalam rumah yang berbahan dasar plastik deh.
Salah satu produsen bahan baku barang plastik di Indonesia adalah di Pertamina Unit Pengolahan III Palembang tempat saya kerja dengan jenis produk yang bermacam-macam.

SENI
Untuk urusan seni, terutama seni lukis, peranan utama hidrokarbon ada pada tinta / cat minyak dan pelarutnya. Mungkin adik-adik mengenal thinner yang biasa digunakan untuk mengencerkan cat. Sementar untuk urusan seni patung banyak patung yang berbahan dasar dari plastik atau piala, dll….
Hidrokarbon yang digunakan untuk pelarut cat terbuat dari Low Aromatic White Spirit atau LAWS mmerupakan pelarut yang dihasilkan dari Kilang PERTAMINA di Plaju dengan rentang titik didih antara 145o C — 195o C. Senyawa hidrokarbonyang membentuk pelarut LAWS merupakan campuran dari parafin, sikloparafin, dan hidrokarbon aromatik.

ESTETIKA
Sebetulnya seni juga sudah mencakup estetika. Tapi mungkin lebih luas lagi dengan penambahan kosmetika. Jadi bahan hidrokarbon yang juga digunakan untuk estetika kosmetik adalah lilin. Misal lipstik, waxing (pencabutan bulu kaki menggunakan lilin) atau bahan pencampur kosmetik lainnya, farmasi atau semir sepatu. Tentunya lilin untuk keperluan kosmetik spesifikasinya ketat sekali.
Lilin parafin di Indonesia diproduksi oleh Kilang PERTAMINA UP- V Balikpapan melalui proses filtering press. Kualifikasi mutu lilin PERTAMINA berdasarkan kualitas yang berhubungan dengan titik leleh, warna dan kandungan minyaknya. Jenis lilin dan peruntukannya secara lebih luas ada disini.

Kamis, 06 Januari 2011

LAPORAN LENGKAP IKHTIOLOGI

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM IKHTIOLOGI





Disusun Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Menyelesaikan Mata Kuliah Ikhtiologi


OLEH
IWAYAN EKANATA
E 271 09 020


PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2009




MORFOLOGI
I.  PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Iktiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek kehidupan. Ilmu ini ternasuk salah satu cabang biologi.sebagai suatu mata ajaran maka ia meliputi kegiatan kuliah dan praktikum. Iktiologi berkembang meliputi beberapa cabang utama antara lain : Klasifikasi, Anatomi, Evolusi dan Genetika, Natural history dan Ekologi, Fisiologi, Biokimia dan Konserfasi.
Morfologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk luar organisme. Morfologi ikan mempelajari tentang bentuk tubuh dan organ luar ikan,yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari jenis-jenis ikan. Bentuk tubuh ikan sering mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan dalam daur hidupnya,sejak lahir sampai dewasa. Pada ikan tertentu perubahan bentuk ini sangat menyolok.
            Tubuh ikan tersusun atas tiga bagian, yaitu: kepala, batang tubuh, dan ekor.  Tubuh ikan tuna adalah simetri dua, bentuk demikian berarti terdiri  atas dua belahan yang sama, apabila tubuh ikan dibelah dua dari kepala ke ekor dengan arah punggung perut.  Pada ujung depan dari kepala terdapat mulut, diatas mulut terdapat cekung hidung, pada sebelah menyebelah kepala terdapat mata, antara bagian kepala  dan batang tubuh terdapat tutup insang.
(Mahardono, 1979).
            Badan ikan tuna berbentuk fusiform, menandakan kecepatannya dalam pergerakannya.  Bagian belakang badannya langsing, sedangkan bagian terlebar di tengah-tengah.  Penampang lintang badan ikan tuna pada umumnya berbentuk bulat panjang atau agak membulat (Hardanto, 1979).
1.2       Tujuan dan Kegunaan
            Praktikum morfologi ikan bertujuan untuk mengenal bentuk tubuh dan bentuk organ luar pada ikan.
            Kegunaan dari praktikum morfologi ikan ini adalah agar praktikan dapat mendeskripsikan ikan berdasarkan ciri morfologi tubuh dan organ luar dari ikan.


II.  TINJAUAN PUSTAKA
Tubuh ikan tersusun atas tiga bagian, yaitu: kepala, batang tubuh, dan ekor.  Tubuh ikan tuna adalah simetri dua, bentuk demikian berarti terdiri  atas dua belahan yang sama, apabila tubuh ikan dibelah dua dari kepala ke ekor dengan arah punggung perut.  Pada ujung depan dari kepala terdapat mulut, diatas mulut terdapat cekung hidung, pada sebelah menyebelah kepala terdapat mata, antara bagian kepala  dan batang tubuh terdapat tutup insang.
(Mahardono, 1979).
Morfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk dan bagian-bagian luar ikan, dan termasuk bagian-bagian seperti bentuk tubuh, mulut, posisi sirip perut terhadap sirip dada, bentuk sirip ekor, bentuk linea llateralis serta ciri-ciri khusus seperti finlet, skute, keel dan sebagainya ( Affandi, 1992).
Badan ikan tuna berbentuk fusiform, menandakan kecepatannya dalam pergerakannya.  Penampang lintang badan ikan tuna pada umumnya berbentuk bulat panjang atau agak membulat (Hardanto, 1979).
           

III.  METODE PRAKTIKUM
3.1       Waktu dan Tempat
            Praktikum Ikhtiologi mengenai morfologi ikan ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 18 Mei 2010, praktikum ini dimulai pada pukul 10.30 WITA sampai selesai. praktikum ini bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian,  Universitas Tadulako, Palu.
3.2       Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam praktikum Ikhtiologi mengenai morfologi ikan adalah dissecting kit, baki preparat,lup, tisu, dan alat tulis.  Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan yellowfin tuna dan air mineral.
3.3       Cara Kerja
            Sebelum kita melaksanakan praktikum yang pertama kita lakukan adalah menyiapkan alat dan bahan praktikum. Siapkan ikan yang akan dipraktekkan dan letakkan pada baki preparat dengan posisi kepala ikan sebelah kanan. Selanjutnya kita mengambil alat yang kita butuhkan, kemudian kita melakukan penelitian selanjutnya kita menggambar ikan pada lembar kerja modul yang telah disediakan dan mengisi tabel dengan bagian-bagian morfologi ikan  yang diteliti.


IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1       Hasil
            Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, maka kami memperoleh hasil sebagai berikut :
           







Keterangan :
A.Bagian kepala;B.Bagian badan;C.Bagian ekor.1.sirip dorsal (1a.sirip dorsal pertama, dan 1b. sirip dorsal kedua); 2.sirip caudal; 3.sirip anal;4. sirip ventral;5. Sirip dada;6. mulut; 7. Lubang hidung; 8. operkulum; 9.preoperkulum; 10. rahang atas; 11. rahang bawah; 12. anus.
Gambar 1.  Morfologi ikan yellowfin tuna



Tabel 1.  Morfologi ikan yellowfin tuna
PARAMETER
JENIS IKAN
Thunnus albacores
Bentuk tubuh
Fusiform
Bentuk mulut
Tidak dapat disembulkan
Posisi mulut
Superior
Mulut disembulkan (dapat / tidak)
Tidak Dapat
Sungut ( ada / tidak )
Tidak Ada
Jika ada ( letak / jumlah )
_
Bentuk sirip ekor
Episerkal
Posisi sirip V terhadap P
Torasik
Tipe sirip D (tunggal /ganda)
Ganda
Kelengkapan LL
Ada
Sirip V (ada/tidak)
Ada
Ciri khusus
Finlet
Operkulum
Ada
Preoperkulum
Ada
Sirip P (ada/tidak)
Ada

4.2              Pembahasan
            Tuna (Thunnusalb albacore) merupakan sumber daya ikan yang potensial dikembangkan, baik sebagai salah satu sumber makanan sehat bagi masyarakat juga sebagai sumber devisa negara selain itu ikan tuna juga beragam jenisnya. Pada praktikum morfologi ikan kami menggunakan sampel ikan tuna jenis yellowfin tuna (Thunnus albacore).  Pada umumnya badan ikan ekor kuning tampak padat, silindris panjang, mulut tidak dapat disembulkan, selain itu ikan tuna jenis yellowfin tuna mempunyai sirip ekor yang berbentuk Episerkal, dan ciri khusus dari yellowfin tuna memiliki Finlet.
            Tubuh ikan tuna tersusun atas tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan ekor.  Tubuh ikan tuna adalah simetri, bentuk demikian berarti terdiri atas dua belahan yang sama, apabila tubuh dibelah dua belahan yang sama, dan tubuh dibelah dua dari kepala sampai ekor dengan arah punggung perut. Tubuh ikan tuna juga disebut bernentuk fusiform sehingga dia terolong ikan perenang cepat.  Pada ujung depan dari kepala terdapat mulut dengan posisi terminal, diatas mulut terdapat cekung hidung, pada sebelah menyebelah kepala terdapat mata, diantara bagian kepala dan badan terdapat tutup insang, diatas punggung terdapat dua buah sirip dorsal/sirip dorsal ganda, dan memiliki sirip ventral yang posisinya abdominan.
 

V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1          Kesimpulan
            Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah kami lakukan, kami dapat simpulkan  sebagai berikut:
1.   Ikan tuna jenis yellowfin tuna merupakan jenis ikan yang dapat berenang cepat karena bentuk tubuhnya seperti rudal sehingga dapat memudahkan dirinya bergerak di dalam  air.
2.   Ikan tuna memiliki mulut yang tidak dapat disembulkan dan memiliki tapis insang yang jarang-jarang.
5.2       Saran
            Dengan melihat praktikum yang dilakukan maka saya menyarankan agar dalam praktikum berikutnya jenis ikannya harus lebih beragam dan peralatan yang digunakan lebih lengkap dari peralatan yang di gunakan pada saat praktikum sekarang.


MORFOMETRIK DAN MERISTIK

I.  PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Ciri morfometrik adalah Ukuran yang berhubungan dengan ukuran panjang, lebar, tinggi dari tubuh atau bagian-bagian tubuh ikan. Pada bagian tubuh ikan yang biasanya diukur antara lain : Panjang total, panjang cagak, panjang standar, panjang kepala dan sebagainya. Sedangkan pada ciri meristik adalah ciri  yang berkaitan dengan jumlah bagian tertentu dari tubuh ikan misalnya : pada sirip, sisik dan insang.  Susunan tubuh ikan yang satu dengan yang lain berbeda sesuai dengan jenisnya, namun demikian pada umumnya ikan mempunyai ciri-ciri morfometrik atau pun ciri meristik.
Susunan tubuh ikan yang satu dengan yang lain berbeda sesuai dengan jenisnya, namun demikian pada umumnya ikan mempunyai ciri-ciri morfometrik atau pun ciri meristik.
            Ikan tuna pada dasarnya memiliki jenis yang beragam misalnya ikan tuna mata  besar, tuna sirip biru selatan, tuna sirip kuning, tuna ekor panjang, dan lain-lain.  Selain jenisnya yang beragam ikan tuna juga mempunyai ukuran yang beragam pula baik karena jenisnya maupun karena perubahan sejalan dengan perkembangan dalam daur hidupnya sejak lahir sampai dewasa (Pratigyo, 1984).
1.2       Tujuan dan Kegunaan
            Praktikum Ikhtiologi mengenai morfometrik dan meristik ikan bertujuan untuk mengetahui bagian tubuh dan menghitung jumlah dari karakter tertentu bagian tubuh ikan.
            Kegunaan dari praktikum Ikhtiologi mengenai morfometrik dan meristik ikan adalah agar praktikan dapat mengetahui ukuran dari setiap jenis ikan dan mengetahui ukuran dari setiap perkembangan  dalam daur hidupnya.


II.  TINJAUAN PUSTAKA
Setiap spesies ikan memiliki ukuran yang masing-masing berbeda disebabkan oleh umur, jenis kelamin, tempat hidup serta faktor-faktor lingkungan sekitar seperti makanan, suhu, pH, salinitas dan iklim.  Ukuran yang diberikan untuk di identifikasi hanyalah ukuran mutlak (cm) dan ukuran perbandingan yang berupa kisaran angka  saja (Saanin, 1968).
            Selain jenisnya yang beragam ikan juga mempunyai ukuran yang beragam pula, hal ini disebabkan oleh perubahan sejalan dengan perkembangan dalam daur hidupnya.  Walaupun ikan mempunyai ciri morfometrik dan meristik yang berbeda tapi pada umumnya sama (Pratigyo, 1984).
Ukuran ikan menunjukan besar kecilnya ikan, apabila panjangnya lebih dari 10 cm, yang dimaksud panjang yang diukur dari ujung mulut ikan sampai dengan ujung ekor yang disebut panjang total (Machar, 1991).
            Ikan tuna mempunyai beragam jenis misalnya tuna mata besar, tuna sirip biru selatan, tuna sirip kuning, albacore, tuna ekor panjang, dan lain-lain. Selain jenisnya yang beragam ikan tuna juga mempunyai ukuran yang beragam pula baik karena jenisnya maupun perubahan karena sejalan dengan perkembangan dalam daur hidupnya sejak lahir sampai dewasa (Pratigyo,1984).


III.   METODE PRAKTIKUM
3.1       Waktu dan Tempat
            Praktikum Ikhtiologi mengenai ciri Morfometrik dan Meristik ikan ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 18 Mei 2010, praktikum ini dimulai pada pukul 10.30 WITA sampai selesai.  Praktikum ini bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu.
3.2       Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam praktikum Ikhtiologi mengenai ciri morfometrik dan meristik ikan adalah dissecting kit, baki preparatlup, tisu, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan yellowfin tuna dan air mineral.
3.3       Cara Kerja
            Sebelum kita melaksanakan praktikum yang pertama kita lakukan adalah menyiapkan alat dan bahan praktikum setelah itu mengambil seekor ikan dan meletakkannya pada baki dengan posisi kepala sebelah kanan.  Setelah itu mengukur semua bagian tubuh ikan yang menyatakan karakter morfometrik dan manghitung jumlah bagian yang menyatakan karakter meristik.  Kemudian mengisi tabel pada lembar kerja sesuai pengukuran dan perhitungan yang telah dilakukan.

Tabel 2. Persentase ciri morfometrik yellowfin tuna
No
BAGIAN TUBUH YANG
DIUKUR
JENIS IKAN
TUNA
PERSENTASE
1.
Panjang total
34 cm

2.
Panjang garpu /cagak
9 cm
26,4 %
3.
Panjang baku
30 cm
88,2 %
4.
Panjang kepala
9 cm
26,4 %
5.
Panjang predorsal
10 cm
29,4 %
6.
Panjang batang ekor
10 cm
29,4 %
7.
Tinggi badan
9 cm
26,4 %
8.
Tinggi batang ekor
1,5 cm
4,4 %
9.
Tinggi kepala
6 cm
17,6 %
10.
Lebar kepala
5 cm
14,70 %
11.
Lebar badan
5,5 cm
16,1 %
12.
Panjang hidung
2,5 cm
7,35 %
13.
Panjang bagian kepala di belakang mata
4,5 cm
13,23 %
14.
Lebar ruang antar mata
3 cm
8,82 %
15.
Diameter mata
2 cm
5,88 %
16.
Panjang rahang atas
8 cm
8,82 %
17.
Panjang rahang bawah
3,5 cm
10,29 %
18.
Lebar bukaan mulut
3,5 cm
10,29 %
19.
Tinggi di bawah mata
0,9 cm
2,64 %
20.
Panjang dasar sirip punggung
7 cm
20,5 %
21.
Panjang dasar sirip anal
2 cm
5,88 %
22.
Tinggi sirip punggung
3,5 cm
10,29 %
23.
Panjang sirip dada
9 cm
26,4 %
24.
Panjang sirip perut
3 cm
8,82 %

Rumus proporsi  B / A X 100 %
Keterangan : A.  Panjang total tubuh
B.     Panjang bagian tubuh yang diukur
 
Tabel 3. Lembar kerja ciri meristik
No
PARAMETER
JENIS IKAN
IKAN TUNA
1.
Jari-jari sirip keras :
Sirip D
Sirip C
Sirip A
Sirip P
Sirip V

XIV
IX
I
I
I
2.
Jari-jari sirip lemah :
Sirip D
Sirip C
Sirip A
Sirip P
Sirip V

15
15
9
33
4
3.
Perumesan sirip :
Sirip D
Sirip C
Sirip A
Sirip P
Sirip V

XIV.15
IX.15
I.10
I.33
I.4
4.
Jumlah sisik :
                        Pada LL
          Di bawah LL
                        Di atas LL

27
24
29
5.
Jumlah sisik predorsal
-
6.
Jumlah sisik pipi
-
7.
Jumlah sisik keliling badan
-
8.
Jumlah sisik batang ekor
-
9.
Jumlah tapis insang :
          Bagian bawah
                       Bagian atas

18
5
10.
Jumlah finlet
16

4.2       Pembahasan
            4.2.1    Ciri morfometrik
Susunan tubuh ikan yang satu dengan yang lain berbeda-beda sesuai dengan jenisnya, namun demikian pada umumnya ikan mempunyai ciri yang sama.   Morfometrik adalah ukuran yang berhubungan dengan ukuran panjang, lebar, tinggi, dari tubuh atau bagian-bagian tubuh ikan. Bagian  tubuh yang biasanya diukur.
            Dari hasil pengamatan kami ikan ini adalah omnivora karena dilihat dari posisi mulutnya yang tidak dapat di sembulkandan tapis insangnya berjimblah sedikit dan panjang. Ikan ini, ter maksut ikan yang memiliki kebiasaan makan di permukaan atau biasa dasebut

4.2.2    Ciri meristik   
Meristik adalah ciri yang berkaitan dengan jumlah bagian tertentu dari tubuh ikan. Ciri-ciri meristik pada ikan misalnya sirip (jari-jari sirip keras dan jari-jari sirip lemah), sisik dan insang.  Pada ikan tuna jenis yellowfin tuna yang kita teliti dalam praktium ikhtiologi mengenai morfometrik dan meristik kami memperoleh perumusan sirip yaitu D.XIV.15,  C.IX.15,  A.I.10,  P.I.33, V.I.4. Jumlah tapis insang bagian bawah 18, jumlah tapis insang bagian atas 5 dan jumlah finlet 16 buah.
V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1              Kesimpulan
            Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, maka kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: Ciri morfometrik dan meristik pada ikan tuna umumnya sama namun kadang berbeda ketika dalam masa pertumbuhan dan kelainan pada saat menetas dari telur. Dan pada umumnya Ikan tuna tidak memiliki sisik besar seperti jenis ikan lain.
B.                 Saran
            Dengan melihat praktikum yang dilakukan maka saya menyarankan agar dalam praktikum berikutnya jenis ikannya lebih beragam dan peralatan yang digunakan lebih lengkap.

                                       SISTEM INTEGUMEN
I.  PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
            Integumen merupakan bagian tubuh yang berada pada bagian terluar.  Sistem integument terdiri dari kulit dan derifat-derifatnya.  Yang termasuk derifat kulit adalah sisik, jari-jari sirip, skut, keel, kelenjar lendir, dan kelenjar racun.
            Sisik mempunyai empat tipe yaitu :
1.   Placoid yaitu sisik yang berbentuk piring dimana tiap sisik memiliki bagian yang berbentuk mangkuk kecil. 
2.   Rhomboic yaitu sisik yang menyerupai bentuk diamond atau jajar genjang.
3.   Cycloid yaitu sisik yang memiliki garis-garis yang melingkar.
4.   Ctenoid hampir sama dengan tipe cycloid tetapi memiliki duri-duri kecil pada bagian posterior dari sisik.
Menurut Buchar (1991), bahwa bentuk dan bahan yang terkandung pada sisik ikan dapat dibedakan menjadi lima jenis yaitu placoid, cosnoid, ganoid, cycloid, dan ctenoid.  Bagian sisik yang menempel ketubuh hanya sebagian, kira-kira separuh penempelannya secara tertanam kedalam sebuah kantung kecil di dalam dermis dengan susunan seperti genting.
1.2       Tujuan dan Kegunaan
            Praktikum Ikhtiologi mengenai system integumen bertujuan untuk mengenal system yang berhubungan dengan derivate kulit. Praktikum Ikhtiologi mengenai system integument berguna agar setelah selesai praktikum ini para praktikan dapat mendeskripsikan ikan berdasarkan dari kulit dan derivat-derivatnya, yang meliputi kulit, lendir, dan sisik.

II.  TINJAUAN PUSTAKA
            Badan ikan tuna berbentuk fusiform, menandakan kecepatan dalam pergerakannya.  Bagian belakang badannya lagsing sedangkan bagian terlebar ditengah-tengah.  Penampang lintang ikan pada umumnya berbentuk bulat panjang atau agak membulat.  Semua bagian badannya ditutupi oleh sisik kecuali pada bagian dada yang mengeras seperti perisai.  (Buchar, R,1991).
            Menurut Buchar (1991), bahwa bentuk dan bahan yang terkandung pada sisik ikan dapat dibedakan menjadi lima jenis yaitu placoid, cosnoid, ganoid, cycloid, dan ctenoid.  Bagian sisik yang menempel ketubuh hanya sebagian, kira-kira separuh penempelannya secara tertanam kedalam sebuah kantung kecil di dalam dermis dengan susunan seperti genting.
Kulit pada tubuh ikan merupakan pembungkus luar yang berfungsi sebagai garis pertahanan pertama terhadap penyakit dan faktor-faktor luar yang mempengaruhi hidupnya, sebagai alat respirasi, ekskresi dan omoregulasi.  Kulit pada epidermis terdapat lendir (lapisan luar), sedangkan pada corium terdapat pembulu darah, saraf dan jaringan pengikat yang berperang dalam membentuk sisik (Soewasono, 1960).
Sistem integumen yaitu sisten penutup tubuh, bagian dari tubuh yang berada dibagian terluar.  Sistem ini terdiri dari kulit dan derivat-derivatnya, yang termasuk derivat pada kulit ikan adalah sisik, jari-jari sirip, kelenjar lendir, skut dan kelenjar racun (Simorangkir S, 2000).
            Sisik dibagi menjadi empat bagian yaitu sisik placoid, rhomboid, cycloid, dan chenoid.  Pada keempat tipe sisik ini memiliki bentuk yang berbeda-beda seperti pada plakoid berbentuk piring atau mangkok kecil, cycloid berbentuk diamond atau jajaran genjang, cyloid berbentuk seperti orbit dan ctenoid berbentuk seperti sisik plakoid, tetapi memiliki duri-duri kecil  (Djuhanda, 1981).
III.  METODE PRAKTIKUM
3.1       Waktu dan Tempat
            Praktikum Ikhtiologi mengenai sistem integumen dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 18 Mei 2010, praktikum ini dimulai pada pukul 10.30 WITA sampai selesai.  Praktikum ini bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu.
3.2       Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam praktikum Ikhtiologi mengenai sistem integumen, yaitu: dissecting kit, baki preparat, lup, tisu, mikroskop, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan yellowfin tuna dan air mineral.
3.3       Cara Kerja
            Sebelum kita melaksanakan praktikum yang pertama kita lakukan adalah menyiapkan alat dan menyedikan satu ekor ikan sebagai sampel dan meletakkannya pada baki preparat dengan posisi kepala sebelah kanan.  Setelah itu kita mengambil satu sisik bagian badan.  Kemudian kita mengamati sisiknya dibawah mikroskop dan membuat gambar sisik seperti yang telah di amati  pada lembar kerja.
           
IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1       Hasil
            Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum Ikhtiologi tentang sistem integumen dengan sampel ikan yellowfin tuna (Thunnus albacores) diperoleh hasil sebagai berikut :








Keterangan :
1. Fokus ; 2. Anterior ; 3. Pasterior ; 4. Annulus ; 5. Sirkulus

Gambar 2.  Sisik badan (tipe Ctenoid)
4.2       Pembahasan
            Integumen merupakan system pembalut tubuh yang terdiri dari kulit dan derivatnya-derivatnya, yang meliputi kulit, lendir, dan sisik. Kulit terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam yang disebut dermis atau corium.  Kulit pada ikan selain sebagai pembalut tubuh juga berfungsi sebagai alat pertahanan pertama terhadap penyakit, perlindungan dan penyesuaian diri terhadap faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan ikan serta alat eksresi dan osmoregulasi.
            Tipe sisik ikan yellowfin tuna adalah ctenoid yaitu sisik yang memiliki garis-garis melingkar/garis orbit seperti tipe sisikcycloid. Tetapi pada tipe sisik ctenoid terdapat duri-duri kecil pada bagian posterior dari sisik. 

V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1       Kesimpulan
            Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, maka kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1.   Ikan yellowfin tuna memiliki tipe sisik ctenoid
2.   Ikan yellowfin tuna tidak mempunyai kelenjar racun untuk melindungi dirinya dari predator.
5.2       Saran
            Dengan melihat praktikum yang dilakukan maka saya menyarankan agar dalam praktikum berikutnya jenis ikannya lebih beragam dan peralatan yang digunakan lebih lengkap.

                                                    ANATOMI DALAM
I.  PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
            Anatomi adalah ilmu yang mempelajari letak-letak, fungsi dan bagian-bagian dari organ dalam dari suatu makhluk hidup.  Secara garis besar organ dalam yang mudah diamati adalah alat pencernaan, alat pernapasan, otak, kelenjar pencernaan.
            Pada organ dalam ikan terdapat organ yang tampak memanjang yang berfungsi untuk mengatur daya apung di dalam air selain itu organ ini juga disebut alat hidrostatik karena dapat menyerap atau mengeluarkan gas yang dipengaruhi oleh urat syaraf.  Penelitian terhadap anatomi dalam pada ikan ditujukan juga untuk dunia pengetahuan khususnya pada ikan yang nantinya berguna dalam rangka memanfaatkan sumberdaya hayati.
1.2       Tujuan dan Kegunaan
            Praktikum Ikhtiologi mengenai anatomi dalam bertujuan untuk mengetahui bentuk serta letak organ-organ dalam pada tubuh ikan.
            Kegunaan dari praktikum ini adalah agar para praktikan dapat mengetahui bentuk, letak organ-organ dalam pada ikan serta mengetahui fungsi dari organ-organ tersebut.

II.  TINJAUAN PUSTAKA

            Pratigyo (1984), menyatakan bahwa perut ikan terdapat organ yang tampak memanjang.  Organ dalam tersebut adalah gelembung renang.  Gelembung renang disebut juga pnematosis, yang berfungsi sebagai pengatur daya apung ikan di dalam air.  Alat tersebut dinamakan alat hidrostatik.  Pembuluh darah pada dinding gelembung renang tersebut menyerap atau mengeluarkan gas yang dipengaruhi oleh urat syaraf.
            Lambung berfungsi sebagai penampung makanan, pada ikan yang tidak berlambung, fungsi penampung makanan digantikan oleh usus depan yang dimodifikasi menjadi kantong yang membesar (lambung palsu).  Pada ikan tidak bergigi biasanya terdapat gizzard (lambung khusus) yang berfungsi untuk mengerus makanan (Murniyati, 2002).
            Anus merupakan ujung dari saluran pencernaan, sisa-sisa metabolisme dikeluarkan lewat anus.  Pada ikan yang bertulang sejati anus terletak disebelah depan saluran genital (Mahardono, 1979).
            Menurut Murniyati (2002), selain insang dan paru-paru beberapa jenis ikan memiliki alat pernapasan tambahan yang dapat mengambil oksigen secara langsung dari udara, insang tambahan berfungsi mengambil oksigen dari permukaan air.
            Pada kloaka adalah ruang yang bermuaranya saluran pencernaan dan saluran urogenital.  Namun pada ikan bertulang sejati tidak memiliki kloaka sedangkan ikan bertulang rawan memiliki organ tersebut (Mahardono, 1979).
III.  METODE PRAKTIKUM

3.1              Waktu dan Tempat
            Prakikum Ikhtiologi mengenai anatomi dalam dilaksanakan pada hari Rabu pada tanggal 25 mei 2010 pada pukul 10.30 WITA sampai selesai, bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas pertanian, Universitas Tadulako, Palu.
3.2       Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam praktikum Ikhtiologi mengenai anatomi dalam adalah dissecting kit, baki preparat, tisu, dan lup.  Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan yellowfin tuna air mineral.
3.2              Cara Kerja
            Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan praktikum.  Setelah itu membedah ikan tuna dari arah ekor sampai kepala tanpa harus merusak organ-organ yang ada pada ikan.  Kemudian mengamati struktur organ-organ yang terdapat di dalamnya lalu menggambar struktur anatomi ikan tersebut mengikuti bentuk tubuh ikan pada lembar kerja yang telah disiapkan.

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1       Hasil
            Adapun hasil pengamatan anatomi pada ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacores) sebagai berikut :










Keterangan :
1. otak ; 2. insang ; 3. mulut ; 4. esofagus ; 5. lambung ; 6. usus ; 7. anus ;           8. jantung ; 9. hati ; 10. lambung renang.

Gambar 3.  Anatomi Dalam Ikan Yellowfin Tuna (Thunnus Albacore)
4.2       Pembahasan
            Organ bagian dalam ikan terutama berhubungan dengan beberapa system yang berbentuk untuk melakukan berbagai proses biologis.  Secara garis besar organ yang berukuran relatif besar dan mudah diamati adalah otak, alat pencernaan, peredaran darah dan system pernapasan.
            Ikan yellowfin tuna memiliki beberapa bagian anatomi dalam yang lengkap.  Hal ini dibuktikan adanya otak, mulut, insang, esophagus, lambung, anus, usus, jantung, hati, dan limpa.  Ikan yellowfin tuna termasuk ikan omnivora, tapis insang dari ikan ini pendek dan tidak rapat.  Didalam mulutnya terdapat gigi yang runcing dan juga langit-langit mulutnya seikit bergerigi.  Ikan ini tidak mempunyai kelenjar ludah tetapi mempunyai kelenjar lendir dari mulutnya.  Makanan yang telah dicerna di mulut diteruskan menuju lambung melalui esophagus.  Lambung ikan tuna memanjang dan besar, tempat makanan dicerna dengan menggunakan enzim.  Ususnya sama panjang atau lebih pendek dari panjang tubuhnya, tempat sari-sari makanan diserap.  Otak adalah suunan saraf dan dilindungi oleh tengkorak.

V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1       Kesimpulan
            Dari  hasil pembahasan dan praktikum yang telah kami lakukan, maka kami dapat menyimpulkan :
1.   Organ dalam ikan yellowfin tuna adalah otak, insang, mulut, lambung, usus, anus, jantung, gati dan lain-lain.
2.   Ikan yellowfin tuna (Thunnus albacores) tidak mempunyai gelembung renang.
5.2       Saran
            Dengan melihat praktikum yang dilakukan maka saya menyarankan agar dalam praktikum berikutnya peralatan yang digunakan lebih lengkap demi kelancaran praktikum.

                SISTEM PENCERNAAN, PERNAPASAN, DAN PEREDARAN DARAH
I.                   PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang                                            
            Ikan adalah makhluk yang sangat sederhana misalnya pada organ yang berhubungan dengan alat pernapasan, pencernaan, dan peredaran darah. Pada alat pencernaan ikan terdiri dari 2 bagian yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan.  Pada saluran pencernaan yaitu lambung dan usus, terdapat perbedaan antara lambung dan usus karnivora dengan herbivora.
            Alat pernapasan utama ikan adalah insang, tetapi ada jenis ikan tertentu seperti lung fish yang menggunakan paru-paru dan ada pula ikan yang menggunakan alat pernapasan tambahan seperti labirin.
            Sisem peredaran darah ikan hanya satu jalur aliran, dimana darah mengalir dari jantung ke insang lalu keseluruh tubuh dan kembali lagi pada jantung.  Dan peredaran darah ikan disebut peredaran darah tunggal.
1.2       Tujuan dan Kegunaan
            Praktikun ini bertujuan untuk mengamati organ yang berhubungan dengan sistem pencernaan, pernapasan, dan peredaran darah.
            Kegunaan praktikum ini adalah agar praktikan mengetahui apa-apa saja alat pencernaan, pernapasan, dan peredaran darah ikan.

II.    TINJAUAN PUSTAKA
            Peredaran darah ikan adalah peredaran darah tunggal, yang artinya darah hanya satu kali mengalir melalui jantung.  Darah masuk ke jamtung melalui pembuluh balik yang di tampung  dalam satu smpul yang disebut sinus venosus, kemudian darah masuk kedalam serambi dan bilik selanjutnya dipompa oleh bonggol arteri dan menuju ke lengkung insang, maka selanjutnya akan terjadi pertukaran gas O2.  Setelah itu darah mengalir kembali ke jantung malalui vena (Mahardono , 1979).
            Makanan dicerna oleh ikan dan diserap sebagai sari makanan, dan yang tidak dapat dicernakan dikeluarkan sebagai fase.  Sari makanan itu diedarkan keseluruh bagian tubuh (Mahardono, 1979).
            A­­­­da segolongan ikan selain menghisap hawa dengan insangnya ada juga yang dapat mengambil hawa dari udara karena mempunyai alat yang disebut ’’ Labyrint ’’ dan bekerja seperti paru-paru ikan-ikan ini bila berada diluar air tidak segera mati
( Achjar, 1986 ).
            Pada kloaka adalah ruang yang bermuaranya saluran pencernaan dan saluran urogenital.  Namun pada ikan bertulang sejati tidak memiliki kloaka sedangkan ikan bertulang rawan memiliki organ tersebut
(Fujaya, 2004).
            Anus merupakan ujung dari saluran pencernaan, sisa-sisa metabolisme dikeluarkan lewat anus, pada ikan bertulang sejati anus terletak disebelah depan saluran genital (Mahardono , 1979).

III.  METODE PRAKTIKUM
3.1              Waktu dan Tempat
            Prakikum Ikhtiologi mengenai sistem pencernaan, pernapasan, dan peredaran darah dilaksanakan pada hari Rabu pada tanggal 11 April 2007 pada pukul 13.00 WITA sampai selesai, bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas pertanian, Universitas Tadulako, Palu.
3.2       Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam praktikum Ikhtiologi mengenai sistem pencernaan, pernapasan, dan peredaran darah ikan adalah dissecting kit.  Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan yellowfin tuna.
3.2              Cara Kerja
            Setelah ikan tuna tersebut dibedah kemudian mengamati bagian lambung dan usus lalu mengukur panjang usus dan membandingkan dengan panjang tubuh (panjang total).  Setelah itu mengambil insang dan filamen-filamennya, jantung dan mengamati strukturnya dan menggambarnya pada lembar kerja.

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1              Hasil
            Berdasarkan hasil pengamatan yang telah kami lakukan, kami memperoleh hasil sebagai berikut :











                                Keterangan :
                 1. Lambung           5. Pilorus caeca
                 2. Pilorus               6. Saluran air empedu
                 3. usus                   7. Anus
                 4. esopagus
Gambar 4. Lambung Dan Usus Ikan Dan Organ – Organ Lainnya Jenis  Ikan
(Thunnus albacore).
Tabel 4. Lembar Kerja Sistem Pencernaan Ikan Yellowfin Tuna
Tipe organ pencernaan
Panjang
Rasio
Gigi     
Lambung
usus
Tubuh(A)
Usus (B)
A/B X 100 %
  Vilivorm
Pendek
Panjang
36,2 cm
15/36,2x100%
41,44 %










Keterangan :
1. Tapis insang ; 2. Lengkung insang ; 3. Filmen insang

Gambar 5.  Insang Dari Jenis Ikan Yellowfin Tuna.

Tabel 5.  Lembar Kerja Sistem Pernapasan
Jumlah lembar insang
Jumlah filamen insang
Kanan
Kiri
Kanan
Kiri
5
5
315
315










Keterangan :
1. Sinus venosus ; 2. Atrium ; 3 . Ventrikel ; 4. Conus anterior ;5. Balbus anterior
6. Aorta ventralis
Gambar 6.  Jantung Dari Ikan Yellowfin Tuna.

4.2       Pembahasan
4.2.1    Sistem pencernaan
            Pada alat pencernaan ikan terdiri dari dua bagian yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan.  Saluran pencernaan terdiri dari mulut, rongga mulut (terdapat gigi), faring, esophagus, lambung, pylorus, usus, rectum, dan anus.  Sedangkan kelenjar pencernaan terdiri dari hati, empedu, dan pankreas.
            Sistem pencernaan ikan tergantung pada jenis makanannya.  Makanan ikan akan masuk melalui mulut menuju rongga mulut, didalam rongga mulut terdapat gigi.  Gigi pada ikan beragam tergantung dari jenis makanannya.  Menurut bentuknya gigi ikan digolongkan pada beberapa bentuk yaitu Villiform, Conical, Cannine, Maliform, Incisor, Fuse beak.
            Lambung dan usus ikan biasanya memiliki variasi bentuk dan ukuran yang merupakan akibat dari adaptasi morfologi dan struktural terhadap kebiasaan makanan.  Pada ikan herbivora memiliki lambung yang pendek dan hampir tidak dapat dibedakan dengan usus, sedangkan ususnya lebih panjang dari ukuran tubuhnya.  Pada ikan karnivora memiliki lambung yang agak besar dan memanjang, sedangkan ususnya lebih pendek dan pada ikan omnivora memiliki lambung yang menyerupai kantong yang besar mirip dengan lambung manusia.  Pada ikan yellowfin tuna memiliki gigi villiform dan mempunyai lambung yang besar.  Jadi ikan yellowfin tuna termasuk ikan omnivora.

4.2.2    Sistem pernapasan
Alat pernapasan utama ikan adalah insang, walaupun ada jenis ikan tertentu seperti lungfish yang menggunakan paru-paru.  Selain insang dan paru-paru beberapa jenis ikan memiliki alat pernapasan tambahan antara lain labirin pada ikan betok (Anabas sp), organ arborescent (Clarias sp), divertikula pada ikan gabus.
Pada ikan tuna alat pernapasannya terdiri atas beberapa lembar, masing-masing lembar insang terdiri dari tiga bagian yaitu tulang lengkung insang, filamen insang dan tapis insang.  Bagian yang berperan dalam pengikatan oksigen dari air adalah filamen insang sehingga filamen insang dilengkapi dengan kapiler-kapiler darah.  Selain itu ikan tuna memiliki lembar insang yang jarang-jarang atau kurang rapat.
4.2.3    Sistem peredaran darah
            Sistem peredaran darah ikan disebut peredaran darah tunggal.  Dimana darah mengalir dari jantung ke insang kemudian keseluruh tubuh dan akhirnya kembali kejantung.  Peredaran darah berfungsi dalam pengangkutan oksigen hasil respirasi, pengangkutan sisa metabolisme.  Jantung ikan terdapat suatu ruang tambahan yang disebut sinus venosus, yang berfungsi sebagai penampung darah dari vena hapaticusserta mengirimkannya keatrium terdapat katub sinatrial.  Darah kemudian dikirim kembali ke ventrikel untuk mencegah darah tersebut kembali ke atrium.

V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1       Kesimpulan
            Dari hasil praktikum dan pembahasan yang telah kita lakukan, maka kami dapat menyimpulkan :
1.  Alat pencernaan ikan terdiri dari dua bagian yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan.
2.   Alat pernapasan ikan pada umumnya insang.
3.   Sistem peredaran darah ikan adalah peredaran darah tunggal.
5.2       Saran
            Dengan melihat praktikum yang dilakukan maka saya menyarankan agar dalam praktikum berikutnya yang digunakan lebih lengkap.

                                                                SISTEM OTOT 
I.  PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
            Otot nampak merupakan satu kesatuan tetapi sebenarnya tersusun dari kumpulan blok urat daging.  Ikan memiliki susunan otot yang lebih sederhana jika dibandingkan dengan vertebrata lainnya.  Walaupun susunannya lebih sederhana pada prinsipnya ikan mempunyai tiga macam urat daging yaitu urat daging bergaris, urat daging licin, dan urat daging jantung.  Selain itu otot ikan juga ada yang dibawah rangsangan otak (voluntary) .  Sehingga dalam pergerakannya memerlukan energi, lain halnya dengan tulang.  Nafsu, makan seekor binatang khususnya vertebrata bisa diketahui dengan pergerakannya, begitu juga pada penyakit yang menyerangnya.
1.2       Tujuan dan Kegunaan
            Praktikum Ikhtiologi mengenai sistem otot bertjuan untuk mengenal dan melihat bentuk otot pada beberapa bagian tubuh.  Selain itu praktikum ini mempunyai kegunaan agar praktikan dapat mengenal otot-otot yang terdapat pada setiap jenis ikan.

II.  TINJAUAN PUSTAKA

            Pada prinsipnya ikan mempunyai tiga macam urat daging yaitu urat daging bergaris, urat daging licin, dan urat daging jantung. Secara fungsional urat daging dibedakan menjadi dua tipe, yaitu yang di bawah rangsangan otak (voluntary) ialah urat daging jantung.  Dari penempelnya juga dapat dibedakan menjadi dua yaitu urat daging yang menempel pada rangka, ialah urat daging licin dan urat daging jantung
( Hardanto, 1979).
            Otot polos tidak memperlihatkan adanya garis-garis melintang dan terdapat pada sistem-sistem yang menjalankan fungsinya secara otomatis (Soewasono, 1960).
            Otot berperan dalam pergerakan organ tubuh atau bagian tubuh.  Kemampuan otot untuk berkontraksi disebabkan oleh adanya serabut kontraktil (Mahardono, 1979).
            Dalam tubuh terdapat tiga macam jaringan otot yaitu otot polos, otot serat lintang involunter (tidak dipengaruhi kehendak) dan otot serat lintang volunter           (dipengaruhi oleh kehendak) ( Frandson, 1983).
            Otot pada ikan dibagi oleh suatu sekat horizontal menjadi otot epaksialis yaitu otot yang terletak di atas sekat horizontal, dan otot hipaksialis yang terletak di bawah sekat horizontal (Fujaya, 2004).

III.  METODE PRAKTIKUM

3.1       Waktu dan Tempat
            Praktikum Ikhtiologi mengenai sistem otot dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 April 2007 pada pukul 13.00 WITA sampai selesai.  Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu.
3.2       Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam praktikum Ikhtiologi mengenai sistem otot adalah dissecting kit.  Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan yellowfin tuna.
3.3       Cara Kerja
            Hal pertama yang dilakukan adalah mengelupas kulit terluar pada ikan tuna, setelah terkelupas kemudian mengamati dan menggambar blok urat daging yang tampak lateral pada seluruh bagian tubuh ikan dan otot yang menunjang pergerakan sirip (dada, ventral, dorsal, anal, dan ekor).  Setelah itu membelah ikan dengan melintang  ( bagian badan dan ekor ) kemudian menggambarkan serta menentukan bagian badan, bagian ekor, hipaksial, epaksial, miotom, mioseptum, septum horizontal dan septum vertikal pada kedua tubuh ikan tersebut.

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1       Hasil
            Berdasarkan hasil pengamatan yang telah kami lakukan, kami memperoleh hasil sebagai berikut :










Keterangan :
1. epaksial ; 2. hipoksial ; 3. miotom ; 4. mioseptum ; 5. otot sirip punggung ; 6. otot sirip caudal ; 7. otot sirip anal ; 8. otot sirip ventral ; 9. otot sirip dada ; 10. flexor caudalis ; 11. aduktor caudalis ; 12. proktator dorsalis ; 13. retractor dorsalis ; 14. melinator dorsalis.

Gambar  7.  Otot Bagian Luar Ikan Yellowfin Tuna.



















Keterangan :
A. bagian badan ; B. bagian ekor ; 1. hipaksial ; 2. epaksial ;3. miotom ; 4. mioseptum   5. septum horizontal ; 6. septum vertikal.

Gambar 8.  Potongan Melintang Otot Bagian Badan Dan Ekor Ikan Yellowfin Tuna.
4.2       Pembahasan
            Ikan memiliki susunan otot yang lebih sederhana jika dibandingkan dengan vertebrata yang lain.  Walaupun susunannya lebih sederhana pada ikan juga didapatkan tiga jenis otot yaitu otot polos, otot bergaris, dan otot jantung.
            Bila dilihat secara keseluruhan, urat daging bergaris diseluruh tubuh ikan terdiri dari kumpulan blok urat daging.  Tiap-tiap blok urat daging ini dinamakan miotom yang dilapisi oleh mioseptum.  Urat daging bergaris terdapat disepanjang tubuh ikan mulai belakang kepala sampai ekor pada jaringan yang dapat dikendalikan.  Menurut Sjafei (1989) urat daging yang terdapat di kedua sisi tubuh ikan dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu epaksial dan hipoksial.  Kedua bagian tersebut dipisahkan oleh suatu selaput yang dinamakan “horizontal akletogeneous septum“.  Dibagian permukaan selaput ini terdapat urat daging yang menutupinya “musculus lateralis superficialis“ yang banyak mengandung lemak karena warna yang merah kehitaman.

V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1       Kesimpulan
            Dari hasil praktikum dan pembahasan yang telah kami lakukan maka kami dapat menyimpulkan  :
1.   Susunan otot ikan lebih sederhana jika dibandingkan dengan vertebrata lain.
2.   Tiap blok urat daging terdiri dari hipaksial, epaksial, miotom, mioseptum, septum horizontal, septum vertical.
5.2       Saran
            Dengan melihat praktikum yang dilakukan maka saya menyarankan agar peralatan yang digunakan lebih lengkap.

                                                      SISTEM RANGKA 
I.  PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
            Rangka pada makhluk hidup mempunyai fungsi yang sangat penting selain membentuk tubuh makhluk hidup, juga melindungi bagian-bagian yang paling penting pada tubuh makhluk hidup.
            Pada tubuh ikan termasuk sistem rangka adalah tulang, jaringan pengikat, sisik, gigi, jari-jari sirip, dan penyokong sel.  Tulang sebagai penyusun rangka banyak mengandung garam kalsium, pospor, dan magnesium.  Ikan termasuk hewan vertebrata atau hewan bertulang belakang.  Tulang belakang, selain sebagai penyokong utama tubuh juga berfungsi sebagai penyokong utama tubuh juga berfungsi dalam sistem saraf sehingga mempunyai peran yang sangat penting dalam susunan rangka.
1.2       Tujuan dan Kegunaan.
Praktikum mengenai sistem rangka mempunyai tujuan untuk memudahkan memahami bagian-bagian tulang ikan, selain itu mempunyai kegunaan agar para praktikum dapat mengetahui bagian-bagian tulang atau rangka pada ikan.

II.  TINJAUAN PUSTAKA

            Kerangka tubuh ikan disebut skeleton.  Sisik ikan yang mengandung zat tulang disebut pula rangka luar, rangka dari tulang-tulang disebut rajum dalam, jadi pada ikan susunan rangkanya dapat dibagi rangka luar dan rangka dalam
(Mahardono, 1979).
            Skeleton hewan yang dibentuk oleh tulang merupakan struktur yang hidup.  Tulang mempunyai vasa darah, vasa limfatik, dan nerius dan dapat menjadi sasaran penyakit, mampu memperbaiki diri dan menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan dengan adanya suatu stress (Pratigyo, 1984).
            Skeleton terdiri atas cartilago, os atau kombinasi keduanya.  Os mempunyai dua tipe yaitu os membranus dan os cartilaginous (Katsowo, 1984).
            Sisik ikan yang mengandung zat tulang disebut pula rangka luar.  Sisik ikan tersusun atas zat kapur yang berfungsi untuk melindungi bagian dalam tubuhnya (Soewasono, 1960).

III.  METODE PRAKTIKUM
3.1       Waktu dan Tempat
            Praktikum Ikhtiologi mengenai sistem rangka dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 April 2007 pada pukul 13.00 WITA sampai selesai.  Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu.
3.2       Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam praktikum Ikhtiologi mengenai sistem rangka adalah dissecting kit.  Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan yellowfin tuna.
3.3       Cara Kerja
            Pertama-tama yang kita lakukan adalah mengelupas daging ikan sampai tertinggal hanyalah tulang saja.  Setelah itu meletakkan tulang diatas baki, lalu menggambarnya pada lembar kerja.

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1       Hasil
            Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan, kami memperoleh hasil sebagai berikut :









Keterangan :
1. Neural spine ; 2. Neural arch ; 3. Neural canal ; 4. Centrum ; 5. Hermal arch ;
6. Hermal canal ;7. Hermal spine ;8. Transverse ;9. Pieuralrib.

Gambar 9.  Tulang Belakang Pada Bagian Badan Dan Tulang Belakang Pada Bagian Ekor Ikan Yellowfin Tuna.
4.2       Pembahasan
            Menurut Buchar (1991), tulang rangka ikan terdiri dari dua macam, yaitu rangka chondrichthyes (tulang rawan) dan osteicthyes (tulang sejati). Rangka berfungsi untuk menegakkan tubuh, menunjang atau menyokong organ-organ tubuh dan berfungsi pula  dalam pembentukan buti-butir darah merah.  Berdasarkan letaknya tulang sebagai penyusun rangka dikelompokan dalam tiga bagian, yaitu tulang aksial (tengkorak, tulang belakang, tulang rusuk), veskeral (lengkung insang, tulang-tulang pada bagian kepala yang tidak termasuk dalam tulang tengkorak), apendikular (rangka anggota badan seperti jari-jari sirip dan tulang sirip).
            Pada praktikum Iktiologi mengenai sistem rangka, diketahui bahwa ikan yellowfin tuna memiliki tulang osteicthyes, selain itu juga memiliki tulang aksial, veskeral, dan apendikular.

V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1       Kesimpulan
            Dari hasil praktikum dan pembahasan yang telah kami lakukan, maka kami dapat menyimpulkan bahwa :
1.   Ikan yellowfin tuna mempunyai tulang osteicthyes (tulang sejati).
2.   Ikan tuna memiliki tulang aksial, veskeral, dan apendikular.
5.2       Saran
            Dengan melihat praktikum yang dilakukan maka saya menyarankan agar dalam praktikum berikutnya jenis ikannya lebih beragam.

                                                         IDENTIFIKASI
I.                   PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
            Identifikasi adalah pekerjaan mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi individu  yang beraneka ragam dan memasukannya dalam suatu takson. Identifikasi penting artinya ditinjau dari segi ilmiah, sebab seluruh pekerjaan berikutnya sangat tergantung dari hasil identifikasi yang benar dari suatu spesies yang sedang diteliti.
            Dalam melakukan identifikasi ikan, buku kunci identifikasi ikan mutlak diperlukan. Agar mudah dalam menggunakan buku kunci identifikasi, terlebih dahulu harus memahami istilah-istilah yang biasa digunakan dalam identifikasi. Identifikasi ikan didasarkan atas morfometrik dan meristik yang dilakukan sesuai dengan petunjuk identifikasi.
1.2              Tujuan dan Kegunaan
            Praktikum Ikhtiologi mengenai identifikasi bertujuan menuntun praktikan agar dapat mengidentifikasi ikan. Selain itu berguna untuk mempermudah praktikan dalam mempelajari dan mengamati spesies ikan.

II.                TINJAUAN PUSTAKA
            Identifikasi ikan didasarkan atas morfometrik dan meristik yang dilakukan sesuai petunjuk identifikasi. Langkah-langkah penggunaan kunci identifikasi yaitu pada setiap nomor terdapat lebih dari dua alternatif atau dari dua pernyataan yang berbeda. Pengidentifikasi diharuskan memilih salah satu alternatif yang sesuai dengan ciri spesimen ikan. Jika alternatif pertama tidak sesuai maka diharuskan memilih pada alternatif yang lainnya pada nomor terpilih berikutnya terdapat 2 alternatif. Seperti apa yang telah dikerjakan pada nomor sebelumnya, pada nomor ini pun kita harus memilih alternatif yang sesuai dengan ciri spesimen ikan yang sedang diidentifikasi.  Jika identifikasi dimulai dari kunci untuk menetapkan subordo dan seterusnya sampai pada genus dan spesies. (Saanin, 1984).
            Identifikasi adalah pekerjaan mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi individu  yang beraneka ragam dan memasukannya dalam suatu takson. Identifikasi penting artinya ditinjau dari segi ilmiah, sebab seluruh pekerjaan berikutnya sangat tergantung dari hasil identifikasi yang benar dari suatu spesies yang sedang diteliti
( Soewasono, 1960).

III.  METODE PRAKTIKUM
3.1              Waktu dan Tempat
            Praktikum Ikhtiologi mengenai identifikasi dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 April 2007 pada pukul 13.00 WITA sampai dengan selesai. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu.
3.2              Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam kegiatan praktikum Ikhtiologi mengenai identifikasi adalah alat tulis menulis, buku kunci identifikasi. Sedangkan bahan yang kita gunakan adalah ikan yellowfin tuna (Thunnus spp).
3.3              Cara Kerja
            Memilih salah satu buku kunci identifikasi dan satu jenis ikan yellowfin tuna, kemudian mempelajari ciri-ciri ikan dengan menggunakan kunci identifikasi serta menyiapkan data karakter morfologis dan meristik ikan yang di identifikasi. Kemudian membuat daftar pada lembar kerja I dan II sesuai urutan nomor dalam kunci identifikasi.
IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1       Hasil
            Berdasarkan hasil pengamatan yang telah kami lakukan, kami memperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 6. Identifikasi Ikan Tuna (Thunnus Sibi)
No.1
Rangka terdiri dari tulang benar
                                                  Subclassis Teleostei


No.3
No.3
Kepala simetris
                                                   Ordo Percomorphi


No.4
No.4
Badan tidak seperti ular

No.6
No.6
Badan bersisik atau kadang-kadang seluruhnya atau sebagian tertutup oleh kelopak-kelopak tebal


No.7
No.7
Garis rusuk jika ada, di atas sirip dada

No.9
No.9
Tidak demikian

No.10
No.10
Lebih dari jari-jari sirip punggung keras

No.12
No.12
Hanya satu sirip punggung atau dua sirip punggung yang berhubungan atau berdekatan


No.16
No.16
Hanya satu sirip punggung, sirip punggung tidak bersatu

No.17
No.17
Sirip punggung terdiri dari bagian yang berjari-jari keras, langsung berhubungan dengan bagian yang berjari-jari lemah


No.18
No.18
Sirip punggung dan sirip dubur tidak panjang

No.92
No.92
Garis rusuk lengkap

No.93
No.93
Tidak bersisik ctenoid

No.94
No.94
Bersisik lingkaran (Cycloid)

No.95
No.95
Sirip punggung dua, yang pertama berjari-jari mengeras dan yang kedua mempunyai bagian-bagian yang berjari-jari keras dan berjari-jari lemah
                                                  Subordo SCOMBRIOIDAEA



No.147
No.147
Tulang rahang atas depan dan tulang hidung tidak membentuk cula (alat yang runcing panjang kemuka) sirip dubur satu atau tidak dengan sirip kecil dibelakangnya



No.148
No.148
Badan berbentuk cerutu V. I. 5 jari-jari lemah sirip ekor bercabang pada pangkalnya, sirip kecil di belakang sirip punggung dan sirip dubur ada
                                                  Famili SCOMBRIDAE




No.2487
No.2487
Sisik pada daerah sirip dada seolah-olah memebentuk lapisan sendiri 6-9 rigi pada tiap-tiap sisi ekor


No.2490
No.2490
Langit-langit bergigi atau tidak

No.2491
No.2491
Badan bersisik rata
                                                   Genus Thunus


No.2497
No.2497
Sirip dada sepanjang jarak antara sirip dada dan ujung hidung
                                                    Spesies Thunnus sibi


Tabel 7.  Klasifikasi Ikan Tuna (Thunnus Sibi).

Kelas :  Pisces
         Subklas :  Teleostei
                   Ordo :  Percomorphy
                             Sub ordo :  Scomroidae
                                      Famili :  Scombridae
                                               Genus :  Thunnus
                                                        Spesies :  Thunus sibi


4.2       Pembahasan
            Identifikasi adalah pekerjaan mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomik individu yang beragam dan memasukkannya kedalam suatu takson.  Identifikasi penting artinya ditijnjau dari segi ilmiah, sebab seluruh pekerjaan berikutnya sangat tergantung dari hasil identifikasi yang benar dari suatu spesies yang telah diteliti.
            Dalam melakukan identifikasiikan, kunci identifikasi ikan harus diperlukan.  Adapun cara penggunaannya, pada setiap nomor terdapat dua alternatif.  Identifikasi harus memilih salah satu alternatif yang sesuai dengan ciri spesimen ikan.  Jika sesuai maka dapat diteruskan ke nomor disebelah kanan, namun jika alternatif pertama tak sesuai maka pindah pada alternatif dua, dan begitu seterusnya.
            Hasil praktikum mengenai identifikasi ikan yellowfin tuna adalah spesies Thunnus sibi dan genusnya adalah Thunnus.

V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1       Kesimpulan
            Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat disimpulkan :
1.   Ikan yellowfin tuna adalah spesies Thunnus sibi
2.   Ikan yellowfin tuna adalah genus Thunnus
5.2       Saran
            Dengan melihat praktikum yang dilakukan maka saya menyarankan pada asisten memberi pengarahan kepada praktikan agar hasil yang diharapkan sesuai dengan yang diinginkan.




DAFTAR PUSTAKA
Achjar,M. 1968.  Perikanan Darat.  Sinar Baru.  Bandung.
Buchar,r., 1991.  Kegiatan Magang Mata Ajaran Iktiologi.  IPB, Fakultas Perikanan.
Fujaya, 2004. Fisiologi Ikan.  Rineka Cipta, Jakarta.
Frandson, R.D., 1983.  Anatomi dan Fisiologi Ternak.  PT Inter Masa, Jakarta.
Hardanto, 1979.  Perikanan Indonesia,  PT Cipta Sari Grafika, Bandung.
Katsowo, 1984.  Anatomi Komparativa.  Penerbit Alumni, Bandung.
Mahardono, 1979.  Anatomi Ikan.  PT Inter Masa, Jakarta.
Murniyati, 2002.  Biologi Perikanan.  Penebar Swadaya, Tegal.
Pratigyo, 1979.  Makhluk Hidup.  Proyek Buku Terpadu.  Jakarta.
Saanin, 1984.  Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan.  Binacipta Bogor, Bogor.
Sjafei, 1989.  Fisiologi Ikan.  IPB , Fakultas Perikanan.
Soewasono, 1960.  Diktat Skeleton dan Circulation.  Diktaten Kring Fakultas Kedokteran, Yogyakarta.