Loading...

Rabu, 26 Oktober 2011

Pengaruh Pestisida Terhadap Pertumbuhan Ikan Mas Pada Budidaya Mina Padi


I.      PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pestisida adalah sebutan untuk semua jenis obat (zat/bahan kimia) pembasmi hama yang ditujukan untuk melindungi tanaman dari serangan serangga, jamur, bakteri, virus dan hama lainnya seperti tikus, bekicot, dan nematoda (cacing).Walaupun demikian, istilah pestisida tidak hanya dimaksudkan untuk racun pemberantas hama tanaman dan hasil pertanian, tetapi juga racun untuk memberantas binatang atau serangga dalam rumah, perkantoran atau gudang.
(http://www.kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2009/060914/pengertian.html).
Penggunaan pestisida dalam bidang pertanian yang semakin meningkat telah menimbulkan dampak negatif, sehingga dapat menurunkan kualitas lingkungan yang di akibatkan oleh kontaminasi pestisida. Akibat dari hal tersebut adalah timbulnya masalah pencemaran pada perairan yang harus mendapat perhatian serius yaitu misalnya kematian ikan-ikan di sawah, kolam atau sungai (mulyani, 1973). Hal ini terjadi karena pada umumnya aktivitas pertanian seperti tanaman padi di sawah terdapat pada lingkungan perairan yang juga sebagai tempat pembuangan limbah cair yang masih mengandung residu pestisida. Akibat kegiatan tersebut, maka lingkungan perairan tawar yang merupakan sumber air untuk berbagai kegiatan budidaya perikanan dapat tercemar oleh berbagai bahan aktif yang terkandung dalam formulasi pestisida.
 Di Indonesia pestisida digunakan oleh para petani untuk memberantas hama pada tanaman padi. Penggunaan pestisida secara intensif semenjak tahun 2000-an tersebut memiliki potensi untuk mencemari perairan pada umumnya, dan media hidup usaha budidaya ikan pada khususnya. Namun demikian, sampai saat ini belum ada penelitian tentang pestisida terhadap organisme akuatik di Indonesia maupun keberadaan pestisida di perairan yang menyebabkan pencemaran akibat dari pemakaian pestisida di sawah.

1.2  Rumusan Masalah
Kegiatan budidaya yang dilakukan di minapadi dan sumber air yang berasal dari sungai tidak terlepas dari berbagai masalah penggunaan pestisida dalam proses hasil budidaya yang optimal. Masalah-masalah tersebut kadang dapat mempengaruhi perkembangan pertumbuhan pada ikan dan timbulnya penyakit di karenakan juga adanya beberapa faktor lingkungan, seperti kualitas air yang kurang baik serta suhu yang kurang optimal.
Ikan mas (Cyprinus carpio) dapat di budidayakan di berbagai tempat khususnya dimina padi, namun terdapat perubahan apabila diberikan bahan pestisida yang berlebihan yaitu berdampak pada pertumbuhan ikan mas dan pencemaran disekitar lingkungan.
 1.3  Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pestisida terhadap pertumbuhan ikan mas dalam budidaya mina padi. Adapun kegunaan dari penelitian ini yaitu sebagai informasi dasar untuk menunjang dan memperkaya pengetahuan tentang dampak yang di akibatkan oleh penggunaan pestisida berlebihan dalam budidaya mina padi.
 1.4  Hipotesis
Penggunaan pestisida berlebihan dalam mina padi dapat mempengaruhi perkembangan pertumbuhan ikan mas (Cyprinus carpio).
 
 
 
 II.   TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Mas (Cyprinus carpio)
Secara Taksonomi, Klasifikasi dari ikan mas (Cyprinus carpio) adalah sebagai berikut :
Kingdom         :  Animalia
Filum               :  Chordata
Class                :  Piscess
Subclass          :  Teleostei
Ordo                :  Pertomorphi
Famili       :  Cyprinidae
Genus        :  Cyprinus
Spesies      :  Cyprinus carpio
(http://smk3ae.wordpress.com/2008/07/24/ikan-mas-cyprinus-caprio-l-sebagai-early-warning-system-pencemaran-lingkungan/).
           
Menurut Ciptanto (2002), Ikan mas (Cyprinus carpio) mempunyai bentuk tubuh pipih tegak dan memanjang, mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Pada bagian interior mulutnya terdapat dua pasang sungut. Dalam mulut pada bagian ujung terdapat gigi kerongkongan berbentuk tiga baris gigi geraham.
2.2    Pertumbuhan Ikan
Laju pertumbuhan merupakan peningkatan dalam satuan panjang bobot per unit waktu. Pertumbuhan yang umum di pakai yaitu bobot. Pertumbuhan ikan tergantung pada ketersediaan oksigen terlarut, karena dibutuhkan untuk pembakaran (makanan) guna untuk melakukan aktivitas seperti berenang, pertumbuhan, reproduksi, dan lain-lain. Ketersediaan oksigen bagi ikan juga menentukan lingkaran aktivitas ikan dan konversi pakan dengan ketentuan faktor lingkungan (Kordi, 2005).
Pertumbuhan ikan ialah pertambahan ukuran baik panjang maupun berat. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan adalah faktor genetik, hormon, dan lingkungan(zat hara). Ketiga faktor tersebut saling bekerja sama mempengaruhi, baik dalam arti saling menunjang maupun saling menghalangi untuk perkembangan ikan (Fujaya, 2004).

2.3  Pestisida
Menurut Yip Regan (2008), berdasarkan organisme sasaran, pestisida dapat digolongkan sebagai berikut : insektisida (untuk membunuh serangga), avisida (untuk membasmi burung), fungisida (untuk membasmi cendawan), dan herbisida (untuk pengendalian gulma). Tapi menurut sumbernya pestisida ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu alami (organik) dan sintesis (anorganik).
Sulitnya penanganan bahan kimia dalam kegiatan akuakultur karena berhadapan dengan kepentingan proteksi lingkungan, dengan batasan yang tipis antara kebaikan dan kerugian yang ditimbulkannya, serta melihat buruknya dampak yang dihasilkan oleh penggunaan zat therapeutik sintetis, baik berupa disinfektan, pestisida, maupun antibiotik terhadap lingkungan dan organisme. Maka kecenderungan penggunaan bahan-bahan nabati (alami) untuk pengobatan maupun pencegahan semakin meningkat, terutama pestisida nabati, hal ini dilakukan dengan alasan bahwa bahan-bahan pestisida alami tidak memiliki waktu residu yang lama karena mudah terdegradasi dalam waktu singkat.
(http://www.lismawan.com/2008/02/09/pemakaian-pestisida/html/).
Penghilangan residu pestisida mengikuti hukum kinetika pertama, yakni derajat/kecepatan menghilangnya pestisida berhubungan dengan banyaknya pestisida yang diaplikasi (deposit). Dinamika pestisida di alam akan mengalami dua tahapan reaksi, yakni proses menghilangnya residu berlangsung cepat (proses desipasi), atau sebaliknya proses menghilangnya residu berlangsung lambat (proses persistensi). Terjadinya dua proses ini disebabkan karena deposit dapat diserap dan dipindahkan ke tempat lain sehingga terhindar dari pengrusakan di tempat semula.
Pestisida alami (organik) adalah jenis pestisida yang bahan aktifnya berasal dari organisme hidup, seperti: saponim (yang terdapat dalam biji teh), dan nikotin (yang terdapat dalam tembakau), sementara pestisida sintetik (anorganik) adalah pestisida yang sengaja dibuat melalui suatu proses di pabrik.
(http://www.sumoharjo.blogspot.com/pengaruh-pestisida/).
2.4  Mina Padi
Mina padi biasa disebut juga tumpang sari. Istilah mina padi berasal dari bahasa sanskerta yaitu mina (yang berarti ikan). Mina padi dapat di artikan sebagai sistem pemeliharaan ikan di sawah yang di lakukan bersamaan dengan penanaman atau pemeliharaan padi. Batas masa pemeliharaan ikan pada sistem mina padi berkisar antara 45-65 hari. Batas masa pemeliharaan ikan ini terkait erat dengan umur padi. Dalam prakteknya, waktu pemanenan ikan di sesuaikan dengan tujuan penanaman ikan, untuk pendederan atau pembesaran (Khairuman, 2002).
 2.4  Keuntungan Budidaya Mina Padi
Kesuburan tanah di sawah dapat ditingkatkan karena kotoran ikan dan sisa makanan berfungsi sebagai pupuk. Lahan sawah menjadi subur dengan adanya kotoran ikan yang mengandung berbagai unsur hara, sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik sebesar 30%. Ikan dapat juga membatasi tumbuhnya tanaman lain yang bersifat kompetitor dengan padi dalam pemanfaatan unsur hara, sehingga dapat juga mengurangi biaya penyiangan tanaman liar. Selain itu, mina padi harus didukung dengan pemilihan varietas padi. Penggunaan varietas yang unggul dan adaptif terhadap praktek pertanian terpadu akan mengurangi input pupuk kimia.
(http://www.hanyadarialam.blogspot.com/2011/05/peran-mina-padi-mereduksi-emisi-gas.html).

Penerapan minapadi dengan ikan mas punya beberapa keunggulan. Pertama, Ikan mas lebih tahan terhadap kondisi lingkungan air sawah yang mengandung pestisida. Kedua, potensi pasar Ikan mas yang cukup besar dan cara pemeliharaannya tidak begitu sulit.
(http://www.trobos.com/show_article.php?rid=15&aid=2336).
 

III.     METODOLOGI PENELITIAN
3.1     Waktu dan Tempat
Penelitian ini akan di laksanakan pada bulan Oktober 2011. Penelitian bertempat di desa Tulo, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi Biromaru, Sulawesi Tengah, Palu.

3.2    Materi Penelitian
3.2.1   Organisme Uji
Organisme uji yang di gunakan dalam penelitian ini adalah ikan mas  (Cyprinus carpio) ukuran 6-8 cm yang terdapat di lokasi budidaya.
 3.2.2  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam melakukan penelitian adalah aquarium, alat pengukur tinggi dan berat badan, wadah penelitian, thermometer, ember, dan pH meter. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah ikan mas (Cyprinus carpio) dan air sampel.
3.3     Metode Analisa
3.3.1 Prosedur Kerja
            Hal yang pertama di lakukan dalam penelitian adalah menyiapkan dua aquarium yang diberi sampel A untuk aquarium pertama dan sampel B pada aquarium kedua. Selanjutnya mengambil dua ikan mas yang berada di tempat budidaya mina padi. Kemudian kedua ikan di ukur dan di timbang dengan menggunakan alat ukur yang telah disediakan sebelumnya. Langkah berikutnya yaitu memasukkan air yang sudah tercemar pestisida yang diambil dari tempat ikan dibudidayakan kedalam aquarium A, dan memasukkan air normal yang tidak tercemar kedalam Aquarium B. Selanjutnya masing-masing ikan mas dimasukkan kedalam aquarium A dan B agar dapat diamati perubahan tingkah lakunya setiap saat. Setiap kali dilakukan penyemprotan bahan pestisida pada padi maka air pada aquarium A juga dilakukan pergantian air dengan menggunakan air sampel yang baru. Pada saat waktu pemanenan ikan yang di budidayakan pada budidaya mina padi, maka kedua ikan yang ada diaquarium A dan B di keluarkan untuk diukur dan ditimbang kembali. Langkah yang terakhir yaitu membandingkan selisih ukuran dan berat kedua ikan mas tersebut.
 
DAFTAR PUSTAKA
Ciptanto, S. 2002. TOP 10 Ikan Air Tawar. C.V. Andi Offset. Yogyakarta.
Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Khairuman, A. 2002. Budidaya Ikan Di Sawah. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Kordi, 2005. Budidaya Ikan di Keramba Jaring Apung. Rineka cipta. Jakarta.
Yip Regan, 2008. Diktat Pencegahan Hama Dan Penyakit Ikan. Teknologi Budidaya Perikanan, Bone.

http://www.sumoharjo.blogspot.com/pengaruh-pestisida/. Diakses pada tanggal 01 Oktober 2011.



http://www.trobos.com/show_article.php?rid=15&aid=2336. Diakses pada tanggal 11 Oktober 2011.

http://www,smk3ae.wordpress.com/2008/07/24/ikan-mas-cyprinus-caprio-l-sebagai-early-warning-system-pencemaran-lingkungan/. Diakses pada tanggal 11 Oktober 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar